Selasa, 03 April 2012

10 Godaan sebelum Menikah

1. Mantan pacar kembali
Sakit hati karena diputus masih terasa. Apalagi jika ia cinta pertama. Godaan ini tentunya akan terasa berat. Rasa untuk kembali, rasa ingin memperbaiki dan menjadi yang terbaik, pasti ingin Anda lakukan. Tetapi ingatlah, bahwa dia orang yang telah menyakiti hati Anda, dan masa lalu tak pernah kembali. Ingatlah orang-orang yang sudah membuat Anda untuk bangkit.

2. Mendadak “laris”
Banyak pria tampan yang tiba-tiba mengajak jalan, atau tiba-tiba merasa klik dengan teman baru. Meski niatnya hanya sekadar mengenal atau menjallin hubungan sahabat, sebaiknya hindari. “Jangan main api jika tidak ingin terbakar.”

3. Kekurangan jadi terlihat
Menjelang detik-detik penrikahan, akan membuat Anda dan pasangan semakin dekat. Sisi negatif pun akan terlihat. Yakinkan diri Anda, apakah sisi negatifnya bisa diterima nantinya, atau justru akan membuat huru hara.

4. Menolak masa lalu
Tak ingin ada rahasia, kalian memutuskan untuk bercerita tentang kejadian di masa lalu. Ternyata keterbukaan dan kejujuran itu mendatangkan masalah. Apalagi jika masa lalunya kelam. Jika Anda memang serius, gunakanlah keikhlasan untuk menerima dia apa adanya, dan yakin kalau dia telah berubah. “Mantan penjahat itu lebih baik dari pada mantan orang baik.”

5. Keuangan terbatas
Mempersiapkan tabungan sebelum menikah itu sangat penting. Berembuklah bersama pasangan tentang tema, gedung atau katering yang akan digunakan. Hindarilah meminjam uang atau utang, karena berpotensi merusak kebahagiaan pasca menikah.

6. Waktu yang singkat
Persiapan pernikahan tidak seperti ujian akhir, yang bisa dikerjakan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Catatlah semua kebutuhan dan tanggal deadline. Jangan pernah berpikir waktu yang Anda miliki masih panjang.

7. Tiba-tiba ragu
Pernikahan tinggal menghitung hari. Anda mendadak ragu, karena dihantui banyak pertanyaan. Misalnya, apakah ia calon ayah dari anak saya nantinya, apakah saya nantinya akan menghabiskan waktu dengan dia, dan apakah ini pernikahan yang saya impikan. Carilah semua jawaban itu dengan berbicara pada pasangan Anda. Jangan mencari jawaban sendiri, karena nantinya Anda akan hidup berdua.

8. Mendapatkan pekerjaan impian
Ketika Anda sibuk mempersiapkan pernikahan, datang tawaran pekerjaan baru yang sudah dinanti. Tetapi di pekerjaan baru ini, Anda tidak boleh terikat pernikahan. Tentunya ini menjadi pilihan sulit, karier, atau pernikahan?

9. Sering bertengkar
Menjelang hari H, Anda semakin sering bertengkar. Hal kecil mungkin bisa menjadi besar. Biasanya ini karena kecemasan dan kegugupan menjelang hari H. Kuncinya hanya satu yaitu kesabaran.

10. Orang tua tidak kompak
Biasanya ini dipicu sifat orangtua yang dominan. Keluarga pihak pria menginginkan A, tetapi pihak wanita tidak setuju, ia lebih menyukain B. Anda dan pasangan sebaiknya bersiap-siap untuk hal yang satu ini. Meski terlihat sepele, perbedaan persepsi antar orangtua berpotensi memicu perpecahan.

Selasa, 12 Juli 2011

Aku benci bulan ramadhan

senja mulai lelah menyambut matahari pulang usai sehari berbagi.sementara aku masih asyik merias diri di depan cermin ditemani 5watt redup sendu.pemerah bibir menyala jalang adalah sentuhan terakhirku.
sayup-sayup terdengar kumandang maghrib dari mushola kecil terhimpit sesak kota.
kukecup sikecil buah hatiku tertidur pulas tanpa pernah tahu siapa bapaknya.
“nak..ibu pergi dulu. cari sesuap nasi dari tiap desah birahi.bukankah sebentar lagi bulan puasa.saat kita ikut puasa demi menghormatinya.”

BIARLAH....

Biarlah mata tak terpejam
iringi luka yang tertanam
Biarlah senyummu merona
lunas dendam hati bahagia
Biarlah bayangan yang kau cipta
mendekap erat mencekik jiwa
Biarlah engkau bersukacita
melihat jiwa mati tersiksa
Biarlah bintang menghilang
cahaya bulan pun tak terkenang
Biarlah malam menghayutkanku
berat kenangan menghimpitku
Biarlah daun berguguran
ranting kering berjatuhan
Biarlah ku nikmati sendiri
tangis lirih tiada henti

derita yang tak berujung


                                              kapan air mataku berhenti

Nikmati kehidupan dengan sebaik-baiknya sebagai anugrah yang tak dapat di nilai dengan materi dan kehidupan adalah anugrah Dari Sang Kholiq yang harus dan atau wajib untuk dipertahankan karena kehidupan adalah Hak yang melekat dari awal kita terlahirkan ke dunia ini dan siapapun dengan alasan apapun tidak berhak untuk merampasnya karena hal tersebut adalah Hak Ferogatif Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan kehidupan.

Gunakan kehidupan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan karena smpai kapanpun tiada seorangpun yang dapat memprediksi kapan seseorang itu akan meninggal oleh karena itu manfaatkanlah sisa umur dengan sebaik mungkin.

Sekian lama telah ku tinggalkan Pusaran kedua orang tua ku yang letaknya tidak jauh di belakang rumah dan entah bagai mana keadaannya saat ini, akan tetapi ku yakin keadaannya akan tetap terjaga dan selalu bersih karena ku yakin adik ku disana masih perduli dengan pusaran orang tua kami karena seminggu sekali ku selalu mengusakan untuk menghubungi tante ku yang saat ini merawat adik ku sejak ku tinggalkan serta tiap bulan juga ku usahakan untuk dapat mengirimkan uang untuk memenuhi kebutuhan adik ku disana.

Tanpa sepengetahuan dari adik ku, tente sering bercerita kalau adik ku sering sekali membersihkan pusaran orang tua kami bahkan dalam waktu dua hari sekali dengan rutin mengunjungi dan membacakan doa serta yasin di samping pusaran kedua orang tua kami, pada saat ini usia adikku masih 15 tahun dan ku tinggalkan dia pada saat dia berusia 13 tahun jadi sekitar 2 tahun lalu dia ku tinggalkan dan pada saat itu ada tante atau adik dari orang tua kami yang mau menjaga adik ku yang saat itu masih kecil dan meneruskan usaha dagang dari orang tua kami dan merekapun memperlakukan kami seperti anak kandung mereka sendiri walaupun mereka hanya memiliki 1 anak laki-laki yang usianya masih kecil dan apabila dibandingkan dengan adik ku perbedaan usia mereka bisa dikatakan lumayan jauh karena perbedaan usia mereka sekitar 6 tahun.

Tahun ini akan ku usahakan untuk bisa pulang karena sudah kangen dengan adik perempuan ku satu-satunya yang sejak kecil dan ku tinggalkan dia sejak usianya 13 tahun dan sudah 2 tahun ini ku tidak melihat bagai mana keadaannya secara langsung.

Hari ini setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya ku injakkan kembali kaki ku di tanah kelahiran ku dan sesampainya di rumah tente lah orang yang pertama ku jumpai dan setelah bercengkrama bercerita lalu datang lah om yang pulang setelah berdagang di pasar dan pada saat itu nyaris tanpa ekspresi menyambut kedatangan ku dan hal itu sangat wajar karena sebenarnya om tidak setuju kalau keluarganya tinggal di rumah kami dan keinginan om untuk merantau dan membawa serta keluarganya gagal dikarenakan rasa peduli terhadap keponakannya yang sudah yatim piatu dan tante lebih memilih untuk tinggal dan merawat adik ku dari pada ikut dengan om yang ingin membawanya serta dalam rantauan untuk mencari kerja dengan tujuan memperbaiki taraf kehidupan agar lebih baik karena di desa kami mata pencariannya hanyalah berdagang dan menggarap sawah dan hal tersebut dirasa tidak mencukupi kehidupan sehari-hari untuk keluarga mereka.
Setelah beberapa jam dari kejauhan ku pandangi adik ku yang lagi berjalan menuju rumah dan bahagianya pada saat ku melihatnya masih punya semangat untuk menuntut ilmu walapun keadaan sesulit ini, akan tetapi adik yang ku rindukan itu hanya melemparkan senyum pada saat melihat ku yang sedang menyambutnya di depan pintu masuk rumah lalu masuk ke dalam kamarnya dan ternyata baru ku sadari kalau adik ku sekarang sudah berubah atau kah malu dengan ku karena dulu kalau ku pulang di tahun pertama setiap 6 bulan dan walaupun baru 2 kali pulang dalam 1 tahun pertama dulu dia sangat gembira menyambut kedatangan ku bahkan bermanja-manja sambil memeluk ku untuk mengungkapkan rasa rindunya kepada ku.

Banyak perubahan yang ku lihat dari adik ku satu-satunya yang sangat ku sayangi dan ku cintai itu, wajahnya sendu tak ada lagi semangat dan gairah yang terpancar dari wajahnya yang sekarang lebih terlihat lebih kurus tidak seperti ku tinggalkan 2 tahun yang lalu, pertemuan pertama ku melihatnya seakan-akan ada beban yang begitu berat untuk dipikulnya sendiri dan seolah-olah menorehkan luka batin yang begitu dalam dan pahit, adikku tersayang apa sebenarnya yang membuatmu seperti ini bahkan dengan ku dia tidak lagi seperti sedia kala dengan keakrapan kami karena sejak kecil dia slalu bersama ku dan hanya dia lah satu-satunya yang membuat ku semangat meneruskan sekolah hingga lulus SMA dan melanjutkan usaha dagang yang ditinggalkan oleh kedua orang tua kami, sepulang sekolah selain menjaganya dan menemaninya bermain juga sambil menjaga toko dan tante ku lah yang menjaganya kalau ku sekolah. Pada saat ku memutuskan melanjutkan kuliah di tanah arab (mesir) karena bea siswa dari Ponpes dimana ku menuntut ilmu setelah lulus dari Madrasah dan setelah 1 tahun ada tawaran untuk melanjutkan kuliah di negri gurun pasir itu dan kesempatan itupun tidak ku sia-siakan hanya saja pada saat itu ku berfikir bagaimana adik ku nanti kalau ku tinggalkan dan siapa yang akan mengunjungi dan membersihkan pusaran kedua orang tua kami dari dedaunan dan ilalang yang tumbuh di sekitar pusaran dan pada saat itu tante ku meyakinkan ku untuk menjaga dan merawat adik ku karena adikku dah mulai beranjak dewasa dan tidak memerlukan perhatian secara khusus karena sudah mengerti.

Setelah beberapa lama "Lia" (nama adik ku) keluar dari kamarnya dan hanya melihat ku sebentar yang lagi nonton tv di ruang tamu dan ku lihat dia memakai seragam hendak berangkat menuntut ilmu agama yang letaknya tidak jauh dari rumah dan tidak mengatakan sepatah kata pun hanya senyum kecil yang ku rasa sangat berat untuk menggerakkan bibirnya dan ku merasa sepi berada dirumah karena semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing bahkan adik sepupu ku yang masih kecilpun lebih suka ikut dengan tante ku berdagang di pasar, setelah bosan dengan acara TV dan ku lihat jam dinding berbandul peninggalan orang tua kami sudah menunjukkan pukul 15.30 dan sebentar lagi “Lia” akan pulang dari mengaji, tapi ku lihat ke dapur tidak ada hidangan apapun dan dengan segera ku memancal sepeda ontel milik ayah ku yang dulu sering di gunakan oleh ayah dan ibu ku untuk berjalan-jalan sambil menyapa penduduk desa yang sedang di temuinya di jalan kecil desa ini dan sesampainya ku di pasar untuk membeli beberapa makanan untuk kami semua ku bertemu dengan teman lama ku “Nita” dan kami pun mengobrol untuk melepas rasa rindu karena lama tidak bertemu dan “Nita” bercerita tentang bagaimana tentang teman-teman sekolah dulu dan tanpa terasa sepeda kami berdua terhenti di depan rumah baru dan apik dan
“Nita” : (berkata), mampir mas “Yus” saya kenalkan dengan suami ku, dia baru 1 minggu pulang dari kalimantan dan minggu depan ku akan ikut dengan suami ku ke kalimantan untuk menemaninya disana karena mas “Udin” bekerja di pertambangan batu bara dikaimantan timur.
“wah maaf “Nit” ku gak bisa mampir karena nanti “Lia” pulang belum ada makannan dirumah, ouw iya bagaimana critanya ko bisa bekerja di kalimantan.
“Nita”: diajakin dengan temannya yang lebih dulu merantau kesana dan setelah pulang main kerumah mas “Udin” dan mengajaknya bekerja disana, nah setahun kemudia mas “Udin” datang melamar ku dan pada saat ku menikah kemarin belum genap 1 tahun dan kamu masih di mesir jadi wajar kalau tidak tau.
“ouw bagitu….!” Ya sudah yach ku pulang dulu nanti “Lia” pulang belum ada makanan kan kasian.
“Nita” : ouw iya mas “Yus” salam buat dek “Lia” yach.
“Ok nani kusampaikan. Ku balik dulu ya Assalamualaikum”…
“Nita” : iya Wa alaikumsalam……

Rumah kami tidak berjauhan hanya sekitar 300 m saja dan sesampainya di rumah ku langsung menuju dapur dan menyiapkan makanan di meja makan dan menutupnya dengan tudung saji lalu pada saat membuat minuman dengan rasa jeruk dan pada saat membawanya dalam sebuah teko ke meja makan dan belum sampai ku taruh di meja maka dari belakang ku terdengar suara lembut memelas memberi salam dan tiba-tiba memelukku erat sekali sambil menangis tersedu-sedu dan itulah pelukan pertama dari adik yang ku sayangi setelah beberapa hari di rumah yang beberapa hari ini terlihat cuek seolah-olah tidak mengenali ku, tapi dengan pelukannya yang erat sampai hampir membuat ku serasa sesak dan teko dalam genggaman kedua tangan ku pun hampir terjatuh lalu dengan perlahan ku melangkah untuk menuju meja makan dan menaruh teko itu di atas meja makan dan ku berbalik untuk membalas pelukannya serta menatap wajahnya dengan linangan air mata serta suara tangisnya lalu ku mengusap-ngusap dengan lemut kepalanya;
*****“Lia….. kenapa, ada apa ko nangis....? crita dong biar mas tau masalahnya
“Lia” : “Mas, Lia pengen ikut mas ke mesir, Lia gak mau lagi tinggal disini sama om dan tante, pokoknya kalau Mas Yus kembali Lia ikut, Lia janji tidak merepotkan mas, asal bersama mas Lia akan senang, (sambil menangis tersedu-sedu).
******”Lidah ku kaku tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan “Lia” adik yang sangat ku sayangi menangis seakan-akan merasa sangat kesepian pada saat ku tinggalkan.

Setelah itu ku dudukkan dia di kursi di samping meja makan dan kami melanjutkan obrolan kami dan pada saat itu ku jelaskan kalau aku disana selain kuliah juga bekerja hanya untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari walaupun biaya kuliah ditanggung oleh Universitas akan tetapi mengenai biaya hidup bukan tanggungan atau buakan bagian dari bea siswa dan kalau ada lebihan sedikit dari hasil bekerja di sebuah rumah makan Indonesia dimana t4 ku bekerja maka ku kirimkan buat ”Lia” dan “Lia” pada sat itu hanya menunduk karena ku menjelaskan dengan memandangi wajahnya yang berlinang air mata di pipi kanan dan kirinya, pedih hati ini melihatnya seperti itu dan bertanya dalam hati ada apa sebenarnya yang terjadi dan belum sempat terlontar pertanyaan tersebut deri mulut ku “Lia” berlari menuju kamarnya dan belum sempat mencicipin makanan yang baru saja ku hidangkan.

Ku datangi kamarnya yang pintunya sedang terkunci dan ku katakan padanya walaupun dari balik pintu “Lia kalau Lia ikut mas, nanti siapa yang menjaga dan membersihkan pusaran bapak dan ibu, tadi pagi waktu kamu berangkat sekolah mas mengunjungi pusaran dan mendokan mereka dan mas bertekat untuk dapat lulus dan menjadi sarjana sesuai dengan cita-cita bapak dan ibu dulu, kalau “Lia” ikut nanti konsentrasi mas menuntut ilmu bisa terganggu, lagi pula mas juga bekerja sampai larut malam jadi tidak bisa menjaga dan menemani "Lia" nanti akan merasa kesepian disana, lagi pula kamu kan harus sekolah ya kan, mas janji setelah “Lia” lulus sekolah akan mas ajak bahkan akan mas usahakan agar “Lia” juga dapat melanjutkan kuliah disana. (tanpa ada jawaban dari dalam dan hanya suara tangisan yang kedengarannya di tutupi dengan sebuah bantal). Setelah itu ku merasa serba salah dan tak tau harus berbuat apa dan berkali-kali ku ketuk pintunya dan menyuruhnya untuk makan dulu, tetapi tidak ada jawaban juga.

Rasa bingung dan cemas menyelimuti ku pada saat itu dan di luar ku lihat “Alvi” yang dari penampilannya sangat berbeda dari yang ku tau pada saat menjadi adik kelas ku masa sekolah dulu dan kami dulu sering berangkan sekolah bersama menggunakan sepeda dan tidak jarang juga ku memboncengnya dulu dia masih kecil dan pendiam dan banyak perubahan fisik lainnya dari dirinya karena perbedaan usia kami 2 tahun dan saat ini dia sudah lulus SMA dan pandai merawat tubuhnya karena usianya yang sudah mengerti dan siap mancari pendamping, dan kebetulan tetangga ku itu yang sedang lewat lalu ku sapa dia dan membalasnya dengan senyuman serta ku megunjungi rumahnya, dan ibunyapun menyambutku dengan ramah dan mempersilahkan masuk lalu mengobrol sebentar mengenai bagaimana tentang dunia pendidikan di mesir dan setelah ibunya menuju dapur untuk membuat kan kami minuman maka saat itu adalah saat yang tepat untuk menanyakan bagai mana sebenarnya keadaan “Lia” adik ku, pada saat ku tinggalkan selama ini, kerena sebagai tetangga dekat pasti mengetahui bagai mana kegiatan adik ku karena ku yakin sedikit atau banyak “Alvi” pasti memperhatikan perkembangan adik ku.

“Alvi”: ”Setau ku dek "Lia" itu selalu bangun pagi-pagi sekali dan ke surau, ibu "Alvi" datang membawakan kami teh hangat dan berkata kalau beliau sering bersama menuju surau tapi tidak pernah pulang bersama-sama karena “Lia” selalu lebih dulu pulang , adik mu sangat rajin (kata beliau dan setelah mengatakan itu beliau melanjutkan aktifitasnya di dapur dan kami dengan laluasa bercerita).

****”: “Nah seperti apa sebenarnya kegiatan sehari-hari adik ku itu yang kamu tau “vi”

“Alvi”: “Setelah balik dari surau setelah menyimpan mukenannya “Lia” menimba air dari sumur di samping rumah dan mengisikannya ke dalam bak-bak di kamar madi lalu membasuh pakaian lalu menjemurnya setelah itu menyediakan sarapan untuk om dan tantenya, setelah menyiapkan itu lalu memberi makan ayam serta itik di kandangnya lalu dia mandi dan sarapan serta bersiap berangkat sekolah, dan sepulang dari sekolah dan berganti pakaian lalu mengangkat jemuran lalu mulai menuju kandang itik untuk memberi makan kalau ayam tidak harus di beri makan di siang hari karena cukup dilepas saja nanti kalau petang kembali kekandangnya sendiri. Setelah itu “Lia” biasanya ke dapur untuk mencuci piring dan menyiapkan masakan untuk makan siang dan untuk makan malam sekalian setelah itu dia bersiap-siap untuk mersekolah agama untuk sore harinya dan terkadang juga “Ku” lihat tante “Tin” membeli makanan di luar untuk makan malam. kalau malam biasanya ku lihat “Lia” sering menyirami bunga-bunga di depan rumahnya setelah itu belajar untuk mempersiapkan peralatan sekolah untuk paginya.
****”: “Begitukah kesibukan adik ku selama ini, kenapa tante “Tin” tidak pernah menceritakan hal itu pada ku kalau ku menelpon dan selalu dijawab dengan baik-baik saja pada saat ku tanyakan bagaimana kabar “Lia”
(Berkaca-kaca mataku saat mendengarkan cerita “Alvi”, begitu kah selama ini kesibukan adik kesayangan ku pada saat ku tinggalkan) inikah cobaan yang sedang di jalani adik ku selama ini.

“Alvi”:”Kalau biasa sich bawa dia ikut bersama ” mas yus” kalau balik nanti kami terkadang tidak tega melihat “Lia” seperti itu “mas”.....! berbeda pada saat dulu mas masih belum berangkat ke mesir kami sering bermain bersama dan setelah beberapa bulan “mas yus” di luar negri “Lia” mulai berubah dan jarang sekali bisa bermain dengan teman-temannya dan lebih banyak diam, kalau tidak ditanya maka tidak berbicara dan kalau ditanyapun menjawabnya seadanya atau sekenannya saja.

Setelah mendengar cerita itu dan Adzan magrib mulai terdengar dan ku pulang dan langsung masuk ke dalam kamar “Lia” yang saat itu sedang ke surau dan ku putuskan untuk solat magrib di rumah saja dan setelah selesai solat ku kembali masuk ke kamar “Lia” benar-benar suram dan tanpa ada apapun hanya ada kasur kapuk yang mulai tipis karena sejak dulu tidak di ganti dan sebuah lemari kecil yang sudah mulai rapuh dimakan rayap bagian ujung bawah dari lemari tesebut, sungguh kamar yang menyimpan 1000 misteri yang penuh tanda tanya bagi ku.

Melihat keadaannya seperti itu dan mendengar cerita dari “Alvi” terbersit niatan untuk membawanya ikut bersama ku saat ku balik nanti, akan tetapi yang mengganjal dari niatan ku adalah bagaimana dengan sekolahnya nanti, ku ingin memberikan yang terbaik untuk adik ku yang sangat ku sayangi dan ku cintai.

Setelah beberapa saat berada dikamar “Lia” dan sebelum “Lia” datang ku harus keluar dan tidak ingin larut dalam kesedihan, maka ku duduk di teras menghirup udara segar dengan hembusan angin sepoi-sepoi di malam hari dan terkenang kembali bagaimana kisah meninggalnya ibu ku pada saat setelah melahirkan “Lia” dan masih melekat di dalam ingatan ku pada hari rabu tanggal 23 Juni 2004 di pagi hari lahirlah adik ku “Lia” dan sebelumnya aku, bapak dan ibu sudah mempersiapkan semua pa-apa yang akan dibutuhkan oleh calon adikku nanti dan pada saat itu ku menunggu dengan penuh harap dan senang karena akan memiliki adik perempuan yang cantik dan lucu, dalam keadaan senang menunggu kepulangan mereka dari rumah sakit bersalin yang ada di kota.

Tak pernah ku bayangkan kalau perpisahan ku dengan bapak dan ibu pada saat melepas mereka pergi kerumah sakit adalah perpisahan untuk selama-lamanya karena kepergian mera pagi itu untuk selama-lamanya dengan penuh harap sepulang sekolah ku menanti kepulangan mereka pada waktu itu akan tetapi yang datang adalah 2 orang polisi yang membawa kabar buruk karena mendapati bapak ku meninggal dunia sewaktu mau pulang dan terjadi musibah kecalakaan tragis dan berita buruk ke 2 yang ku terima pada saat itu adalah sebelum bapak ku meninggal sebenarnya ibu ku lebih dulu meninggal setelah melahirkan adik ku “Lia”, betapa pedihnya hati ini dan hanya air mata yang bengalir deras pada saat itu menuju rumah sakit bersama tante “Tin” yang saat itu memeluk ku yang sedang menangis dan serasa dunia ku kelam, hancur berkeping-keping perasaan yang ku rasakan pada saat itu dan hanya adik ku “Lia” yang saat itu ku temui masih tertidur dengan tenang di dalam box bayi dan pada saat itu tante “Tin” membawanya pulang sedangkan aku mendampingi jenazah bapak dan ibu di dalam ambulan dari rumah sakit menuju rumah untuk di mandikan dan ramai para tetangga yang sudah menunggu di rumah untuk menyambut jasad tanpa bernyawa dari 2 orang yang mereka kenal selama ini, sesekali ku lihat adik ku yang baru saja melihat dunia ini dengan senyumnya dan dengan mimik wajahnya yang belum mengerti sedang apa ramai-ramai orang berkumpul di rumah yang tidak lain adalah untuk memberi penghormatan terakhir kepada bapak dan ibunya dengan solat jenazah dan mengantarkan ketempat peristirahatan terakhir untuk orang tua kami.

Harapan dan rencana serta hayalan untuk mengadakan sebuah acara penyambutan atas lahirnya adik ku pada saat itu sirna dengan seketika dan pernah setelah usia “Lia” mulai kelas 1 SD dan mulai bertanya pada ku mengenai bapak dan ibu karena “Lia” melihat keluarga dari teman-temannya yang saat itu mengantarkan kesekolah sedangkan “Lia” hanya aku yang mengantar bahkan kalau waktunya pulang sering ku menitip pesan kepada gurunya untuk menjaganya sampai ku pulang sekolah dan menjempunya dan untungnya guru-guru “Lia” pada saat itu sangat mengerti tentang bagai mana posisi ku dan sering juga beberapa dari guru “Lia” yang mengantarkan pulang dan hal yang paling ku ingat kalau “Lia” duluan sampai di rumah karena diantarkan oleh gurunya dan sampai dirumah biasanya di sambut dengan tante “Tin” yang pada saat itu belum menikah dan “Lia” sangat senang kalau mendengar suara motor ku datang dan “Lia” langsung berlari keluar rumah dan menyambut ku dan selalu minta di ajak berkeliling walaupun sebentar akan tetapi hal itu membuatnya senang dan ku juga bahagia kalau dia merasa senang melihatnya tertawa dengan penuh keceriaan dan hal itu mulai pudar setelah “Lia” mulai mengerti kalau dia sudah yatim piyatu dan pada saat “Lia” mulai tau walaupun usiannya masih sangat kecil dan pada saat itu ku ingat dia sudah kelas 3/4 SD dan tidak pernah lagi mananyakan kemana bapak dan ibunya kenapa tidak pernah pulang, kejadian yang paling membuat ku sedih adalah pada saat “Lia” menangis karena ku tidak bisa memberikan apa yang dia minta dan pada saat dia menangis itu lah memanggil bapak dan ibu walaupun dia belum pernah tau bapak dan ibunya, sungguh ku tak berdaya kalau di hadapkan dengan posisi seperti itu.


***

Kini adik yang ku sayangi dan kucintai sudah beranjak dewasa dan hari itu entah mengapa tidak seperti biasanya setelah membersihkan pusara orang tua kami biasanya langsung pulang tapi hari itu lama ku tunggu bahkan ku jemput dia untuk pulang dan ku melihat dia menangis dan menempelkan keningnya di batu nisan ibu dengan kucuran air mata dan melihat kejadian seperti itu ku hanya bisa melihat dan tidak dapat berkata-kata apa lagi memaksanya untuk pulang dan hanya ku temani dia sampai akhirnya dia mau pulang bersama ku dan sepanjang jalan menuju rumah “Lia” tidak mengucapkan sepatah kata pun dan aku pun sungkan untuk menanyakan sesuatu padanya dan setelah ku ingat-ingat kembali hari itu adalah hari dimana ibu meninggal setelah melahirkan “Lia”, jadi setelah sampai di rumah ku pacu motor ku untuk ke pasar untuk membelikan sesuatu hadiah untuknya sebagai ungkapan bahagia menyambut hari lahirnya dan syukur Alhamdulillah “Lia” menerima hadiah dari ku berupa boneka Tazmania yang berukuran sedang dan bahagianya hati ku pada saat melihatnya tersenyum dan mengucapkan terimakasih padaku dan dia pun meminta sesuatu pada ku, pada saat itu langsung ku katakan padanya apa yang di inginkan dan dia hanya ingin meminta foto bapak dan ibu pada saat itu foto bapak dan ibu sedang berdua dan foto itu di ambil pada saat ibu sedang hamil mengandung ku dan foto itu terbingkai rapi yang selama ini ku bawa, kerena kami hanya memiliki 1 foto itu dan “Lia” ingin memilikinya dan pada saat itu “Lia” pernah masuk ke kamar ku sekali dan memandangi lama foto itu sewaktu ku taruh di atas meja dekat tempat tidur, tapi tidak pernah bertanya hanya diam memandangi foto itu dan tanpa ku jelaskanpun ku rasa dia memiliki kesimpulan kalau yang di dalam foto itu adalah bapak dan ibunya.

Siang itu setelah ku berikan foto itu dan dia memeluk foto itu dan mambawanya ke kamarnya dan kulihat dia memendangi foto itu dalam waktu yang lama dan pada saat itu ku ambil sebuah kotak peninggalan ibu dari sebuah lemari dan kotak itu juga masih tersimpan rapi beserta isinya berupa beberapa perhiasan emas berbentuk cincin dan kalung mutiara dan hari itu pula ku berikan kepada adik ku untuk melengkapi hadiah ulang tahunnya.

Malam setelah ulang tahun, (dalam hati ku katakan) “Lia” ku ingin sekali mengatakan kalau besok pagi ku akan berangkat kembali ke mesir untuk melanjutkan kembali kuliah ku karena masa libur sudah berakhir tapi bagai mana cara menyampaikannya, ku sangat tidak tega meninggalkannya dan ingin menunda untuk beberapa hari lagi untuk melihatnya dan sambil berkemas malam itu “Lia” tiba-tiba datang melihat ku ke kamar dan bertanya apakah besok mas akan kembali....! dan saat itu hanya ku katan bukan besok tapi beberapa hari lagi (dalam hati ingin mengatakan besok pagi harus balik tapi tidak tega melihat matanya berkaca-kaca menenyakan hal itu dan memeluk ku erat seakan-akan tidak ingin ditinggalkan).

Pagi itu ku tidak jadi berangkat walaupun sudah siap untuk berangkat tapi ku tidak tega meninggalkannya karena baru kemain sore melihat senyumnya pada saat ku berikan hadiah karena menyambut hari lahirnya dan yang membuatnya senang lagi adalah baru kemarin “Lia” mengetahui bagai mana rupa dari bapak dan ibunya dari foto yang selama ini ku bawa dan siang itu ku menemui “Lia” di kamarnya dan ku lihat dia memakai cincin ibu dan kalung mutiara serta berpakaian rapi dan bertanya pada ku :
“Lia”; “mas “Lia” secantik ibu kan....?
****”: “iya “Lia” cantik seperti ibu, lalu dia tersenyum dan ini kedua kalinya ku lihat dia tersenyum.
“Lia”:“mas hari ini mas mau kembali ke mesir kan...?
****”; “emm besok aja lah baliknya....! mas masih kangen sama kamu”

Setelah itu dia memeluk ku dan menangis dan bertanya kalau ”Lia” kangen sama mas ”Lia” gak tau harus bagai mana ”Lia” sedih kalau mas kembali karena ”Lia” kesepian mas ”Lia” gak punya siapa-siapa lagi, ”Lia” bingung mas (dengan ucapan seperti itu yang disertai dengan air mata, aku pun tak dapat menahan kucuran air mata yang berusaha ku tahan tapi tanpa ku sadari sudah mengalir dan membasahi kepala ”Lia” yang pada saat itu berada dalam pelukan ku) setelah itu ku kembali ke kamar untuk menenangkan diri dan ku lihat ”Lia” pada saat itu masih menangis dan memeluk foto kedua orang tua kami dan duduk di kursi yang biasanya digunakan untuk belajar.

Tanpa ku sadari aku tertidur dan setelah dZhuhur aku dibangunkan oleh tante ”Tin” untuk makan siang dan entah kenapa hari itu ku ingin sekali makan bersama ”Lia” dan setelah cuci muka lalu ku hampiri kamar ”Lia” dan ku buka pintunya tapi aku tidak melihatnya di kamar lalu ku tanyakan pada tante ”Tin" kemana ”Lia” karena ku mau makan bersama dengan ”Lia” dan tante ”Tin” menjawab ”biasanya hari begini dia kemakam, coba aja di lihat ada apa tidak dan penampilan ”Lia” hari ini berbeda sekali menggunakan perhiasan dan jalan keluar ruamah, itu berbahaya lo jadi jemput adik mu sekarang nanti kenapa-kenapa lou... (kekhawatiran tante ”Tin” kepada ”Lia” keponakannya itu dan juga adik ku).

Ku lansung menuruti saran tante ”Tin” untuk mencarinya di makam dan ada kejadian yang membuat ku penasaran kenapa banyak sekali orang berkumpul di sekirar makan dan untuk mengobati rasa penasaran ku maka bergagas dan ku cepatkan gerak langkah ku menuju ke dalam gerombolan orang itu dan betapa terkejutnya aku melihat apa yang terjadi karena yang menjadi tontonan orang ramai itu adalah ”Lia” yang pada saat itu tergeletak tak berdaya dengan memeluk foto orang tua kami dan dengan perhiasan lengkap milik ibu ku dan belum sempat ku menyentuhtubuhnya orang-orang yang berada disana pada saat itu langsung membawanya kerumah dan ternyata ”Lia” ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa oleh salah satu penjaga makam dan penjaga makan tidak sedikitpun curiga karena untuk mengunjungi makam ”Lia” emang terbiasa lama tapi hari itu setelah beberapa jam ditinggalkan penjaga makam untuk kembali kerumah untuk istirahat siang dan pada saat kembali melihat ”Lia” terbaring di sebelah makam ibunya dan segera memeriksa karena dikira tertidur dan pada saat di tegur tidak ada respon dan dengan rasa curiga maka penjaga makam melaporkan hal ini kepada ketua RT setelah itu pada saat ingin memberitahukan pada keluarga, ku pada saat itu sedang menuju TKP jadi salah seorang deri mereka memberitahukan tante ”Tin” di rumah dan kami bersama-sama membawa jenazah ”Lia” kerumah dan setelah sampai dirumah tak bisa ku tahan lagi rasa emosi dan kemarahan terhadap diri sendiri mengapa hal ini harus terjadi dan pada saat itu ku menangis dan berteriak kenapa ”Liaaaaaaaaaaaaaaa” kanapa kamu tinggalkan ku dan setelah lama ku peluk tubuhnya yang mulai dingin itu lalau beberapa orang dari mereka memegang pundak ku dan memisahkan kami dengan melapaskan ”Lia” dari pelukan ku lalu dimandikan dan dikafani serta disolatkan sebelun di makamkan di samping makan ibunya. Pada saat itu tak bisa ku hentikan tangis ku bahkan sampai prosesi pemakamannya selesai.

Setelah beberapa hari ku menunda kepergian ku karena kejadian itu dan pada saat ku akan berangkat ku sempatkan diri untuk mengemas barang-barang milik adik ku yang ada di kamarnya dan kubuka jendela kamar itu dan dapat kuliahat dari kejauhan pemakaman kedua orang tuaku dan adik ku tidak pernah ku menyangka dan menduga-duga kalau kepulangan ku ini untuk menjadi saksi untuk kesekian kalinya orang-orang yang ku sayangi meninggalkan ku dan sejarah bulan Juni tanggal 23 Tahun 2004 berulang kembali dan dengan linangan air mata ku ucapkan sekali lagi selamat hari ulang tahun adik ku tersayang semoga engkau bisa bertemu dengan bapak dan ibu disana. Air mata ku selalu mengucur deras kalau mengingat kembali kalau pernah dia katakan ingin sekali meninggalkan rumah ini dan penyesalan terbesar ku pada saat itu hingga sekarnag adalah kenapa tidak mengiyakan saja keinginannya pada saat itu dan seandainya ku tau akan seperti ini kejadiannnya pasti jauh-jauh hari sudah ku bawa dia bersama ku atau ku akan memilih untuk tidak berangkat kembali untuk salamanya.

Kembali ku merapikan buku-buku sekolahnya dan duduk di kursi belajarnya dan hanya lampu belajar yang ada diatas meja belajar yang bisa ku pandangi dan kembali mengalir air mata ku mengenangnya dan setelah ku merenung dan ku buka buku-buku catatan sekolahnya dan terjatuh secarik kertas dengan tulisan tangan ”Lia” dan secarik kertas tersebut berupa surat yang ditulis ”Lia” dan diperuntukkan kepada ku dan ku baca surat itu dengan diiringi tetesan air mata yang membasahi pipi ku membaca surat pertama dan terakhir dari adik yang sangat ku sayangi dan ku cintai.

”Assalamualaikum wr. wb Mas Yus, Lia sangat bahagia sekali hari ini dan kemarin adalah hari lahir atau hari ulangtahun “Lia” yang ke 15 dan kemarin adalah hari yang berarti bagi ”Lia” karena mas Yus bukan Cuma mengucapkan selamat ulang tahun tapi juga memberikan hadiah yang sangat ”Lia” idam-idamkan sejak lama, sebenarnya ”Lia” ingin sekali mas Yus adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun di hari lahir ”Lia” tapi lama ”Lia” menunggu sejak tengah malam ”Lia” sengaja tidak tidur dan berharap mas yus mengucapkan kata selamat ulangtahun dan mendoakan ”Lia” bahkan dipagi hari sepertinya mas yus sudah lupa dengan peristiwa bersejarah ini, kalau malam tadi mas yus tidak mengucapkan selamat ulangtahun untuk ku tidak papa walaupun dengan harapan malam tadi mas yus datang mengunjungi kamar ”Lia” dan mengucapkan selamat berulangtahun akan tetapi tak apa lah, tapi pagi kemarin kupikir mas yus benar-benar melupakan tragedi bulan jini tanggal 23 tahun 2004, ”Lia” selalu mengunjungi pusaran bapak dan ibu, mas, setiap tanggal dan bulan ini tapi ”Lia” tidak menyangkka kalau mas yus melupakan tragedi itu dan ”Lia” tau mengapa mas yus tidak pernah mengucapkan selamat ulangtahun kepada ”Lia” itu karena pasti mas yus menyalahkan ”Lia” kan....! karena ”Lia” yang dianggap membunuh ibu dan karena ”Lia” lah ibu meninggal, dan tadi malam ”Lia” bermimpi bertemu dengan bapak dan ibu dan ”Lia” sangat bahagia mas karena selama ini belumpernah memimpikan bapak dan ibu setelah memeluk foto bapak dan ibu yang mas yus kasi kemarin ”Lia” bisa bertemu bapak dan ibu dan ”Lia” senang sekali bisa bertemu bapak dan ibu, wajah mereka juga berseri-seri, mas dan mereka mengajak ”Lia” berjalan-jalan menuju sebuah taman yang indah yang belum pernah ”Lia” lihat sebelumnya dimanapun. ”Lia” juga melihat mas yus dari jauh dan ”Lia” melihat terus ke arah mas yus dan ”Lia” teriak memanggil mas yus tapi mas yus tidak mendengar dan ”Lia” menanyakan pada ibu dan bapak kenapa tidak mengajak mas yus juga dan kenapa kita meninggalkan mas yus, mas yus juga tidak mendengar ”Lia” panggil dan ”Lia” berteriak memanggil mas yus dengan sekuat tenaga berkali-kali tapi ibu dan bapak bilang tidak boleh ikut karena mas yus masih punya janji untuk melanjutkan sekolahnya besok jadi tidak bisa ikut.

Seandainya mas yus tau dan merasakan apa yang ”Lia” rasakan dan seandainya mas yus mengerti bagai mana perasaan ”Lia” yang sangat kesepian dan selalu merindukan saat-saat mas yus masih berada di sisi ”Lia” menjaga ”Lia” menyayangi ”Lia” dan selalu memperhatikan ”Lia”, tapi setelah mas yus pergi tidak ada lagi orang yang menyayangi ”Lia” serasa hidup sendiri tak punya siapa-siapa lagi karena om dan tante tidak lagi seperti dulu waktu masih ada mas yus mereka begitu baik sama ”Lia” tapi setelah mas yus pergi mereka tidak sebaik yang pernah ”Lia” kenal dulu bahkam tanpa sepengetahuan tante "Tin" om sering memukul "Lia" kalau "Lia" ketiduran dan telat menyediakan hidangan makan siang dengan kata-kata kasar dan menyebut "Lia" anak yatim piyatu yang tak tau diuntung kerjanya hanya bermalas-malasan saja dan lama hal ini ”Lia” simpan dan pendam sendiri karena tidak ingin mengganggu kuliah mas yus disana kerena ”Lia” sayang mas yus dan ”Lia” juga ingin mas yus menggapai cita-cita dan juga impian bapak dan ibu karena keinginan bapak dan ibu adalah ingin sekali berfoto bersama dengan mas yus pada saat mas yu mengenakan Toga lengkap dengan gulungan ijazah di tangan, jadi mas yus harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk cepat lulus yach...!

Okey dech, umur ”Lia” semakin dewasa mas dan sudah pantes memakai perhiasan-perhiasan yang ditinggalkan ibu dan lama ”Lia” tidak pernah memakai perhiasan dan baju-baju bagus dan dengan penempilan seperti ini lah ”Lia” bertemu ibu dan bapak dan penempilan ibu dan bapak seperti yang sudah ”Lia” ceritakan dan senang rasanya bisa bertemu dengan ibu dan bapak di sana tadi malam. Suatu saat nanati kita pasti bertemu di sana dan kita bisa berkumpul bersama-sama lagi, Okey....!

Sesungguhnya ”Lia” sangat sayang mas yus dan rasa sayang ”Lia” lebih dari apa yang mas yus kira selama ini karena tidak mungkin ”Lia” jelaskan dengan kata-kata karena alasan sayang dan cinta ”Lia” sama mas yus, maka dari itu tidak pernah menceritakan bagai mana nasib ”Lia” setelah mas yus tinggalkan, bingung harus memulainya dari mana .........! ya sudah lah bingung kl di pikirin n malah bikin sakit, yang jelas ”Lia” sayang mas yus dan selamat tinggal mas yus I LOVE U mas.


”Dari Adik mu yang paling cute, dan selalu merindukan mu”Lia”.


Mengalir deras air mata ku membaca surat dan memandangi foto kedua orang tua ku dan membayangkan rasa penderitaan adik ku yang masih semuda itu menanggung cobaan dan penderitaan yang sangat berat, sangat disayangkan keinginannya untuk melihat ku memakai toga pada saat kelulusan ku tdak terkabulkan, sejak saat itu foto orang tua dan perhiasan peninggalan orang tua serta beberapa foto ”Lia” ku satukan dan ku simpan dalam boks kotak dan menjadikan semangat bagi ku untuk cepat lulus.

"Untuk Ibu, Bapak dan juga adik ku Lia", tunggu aku disana di alam hakiki, di sini ku meneruskan kehidupan ini karena ku masih dirantai dan terbelenggu oleh janji kepada kalian semua insan-insan yang ku sayangi, semoga kita dapat berkumpul kembali suatu saat nanti.

Ku kan selalu mendoakan kalian semua kalian adalah orang-orang yang ku sayangi dan ku kasihi yang dengan cepat meninggalkan ku sendiri di dunia fana ini semoga kita dapat berkumpul kembali suatu saat nanti

S E L A M A T J A L A N
ADINDA

plalar kampungku tercinta

beginilah suasana kampoengku plalar disinilah tempat saya di lahirkan dan di besarkan,banyak cerita mengenai dusun plalarku ini dari mulai dengan kesenian kuntulan sampai dengan terkenal dengan pendu2kya yang rata2 mata pencaharianya bertani,,,,dari mulai bertanam tembakau hingga sayur2an,mungkin nama plalar di telinga warga eks gunung perahu sudah tidak asing lagi,karena rata2 penduduk sekitar untuk memenuhi kebutuhan dapurnya harus membeli di pasar plalar,pasar plalar adalah satu2nya pasar yang paling di minati warga di daerah gunung perahu tersebut  selain banyak pedagang dari lain daerah yang berjualan disitu pasar tersebut juga salah satu pasar terdekat bagi warga sekitar khususnya warga bringinsari,bukan hanya warga bringinsari warga dari kabupaten lain seperti temanggung kecamatan tretep,dari wilayah barat ada dari warga genting gunung,sampai dengan wonodadi,warga di daerah bibir bringinsari seperti taman rejo,ngargosari dll jg banyak warga di daerah tersebut menjual maupun membeli hasil pertanianya di situ,sekarang akses jalan menuju pasar plalar sudah mudah di cari jalan utama melalui perkebunan cengkeh selokaton atau yang lebih di kenal masyarakat Banaran sudah di aspal sampai dengan dusun plalar, banyak jalan alternatif untuk ke dusun plalar mulai lewat lintas taman rejo''trek tambak roto" atau trek genting gunung yang terkenal dengan jalan lapis coklat ini hehehehehehe... bagi para pebisnis mungkin tidak ada salahnya bila mulai membuka usaha di Bringinsari khususnya palalar. sekian tulisanku "tanganku uwes kesel leh ngetik'' maaf klo blog saya kurang jelas atau apa ini hanya tulisan anak tak bersekolah yang ingin memperkenalkan nama kampungnya matursuwun seng sampun mirsani coretanku.